Jumlah Kampus di Indonesia Lebih Banyak dari China

JAKARTA – Jumlah perguruan tinggi yang ada di Indonesia mencapai 4.350 perguruan tinggi. Dengan total penduduk Indonesia sebanyak 250 juta jiwa.

Jumlah perguruan tinggi di Indonesia sendiri lebih banyak jika dibandingkan dengan perguruan tinggi yang ada di China. “Angka ini melebihi jumlah total perguruan tinggi di China, yaitu sekira 2.824 dengan total penduduk 1,4 miliar,” ungkap Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Nasir, seperti dinukil dari laman Universitas Padjadjaran (Unpad), Kamis (15/9/2016).

Menurut Nasir, dengan banyaknya jumlah perguruan tinggi di Indonesia, berarti kita memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di perguruan tinggi.

“Kita akan berhadapan dengan perguruan tinggi di luar negeri. Kita tidak usah mengejar menjadi yang pertama, tetapi harus menjadi yang terbaik,” ucapnya.

Seperti yang kita ketahui bahwa target pemerintah saat ini adalah menjadikan perguruan tinggi di Indonesia bisa masuk dalam jajaran kampus dunia. Demi mewujudkan hal tersebut, manajemen pengelolaan kampus juga perlu dilakukan perubahan, yakni dengan menyiapkan sejumlah regulasi untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi.

“Regulasi yang dilakukan untuk perbaikan, sehingga mendorong perguruan tinggi Indonesia punya fleksibilitas baik. Baik fleksibilitas dalam otonomi akademik, maupun nonakademik,” paparnya.

Salah satu regulasi yang dilakukan untuk menjadikan kampus di Indonesia masuk dalam 500 besar kampus terbaik dunia yakni dengan menerima mahasiswa asing sepenuhnya di perguruan tinggi, sehingga banyak mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Upaya lainnya yang juga dilakukan untuk bisa meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia adalah dengan menambah jumlah publikasi internasional.

Selain itu, Kemristekdiki juga menyiapkan intensif bagi peneliti yang telah mempublikasikan hasil penelitian ilmiahnya. Sebagai perguruan tinggi berbadan hukum, Nasir juga berharap agar para rektor tidak hanya menjadi pemimpin lembaga, namun juga CEO.

“Rektor tidak lagi berpikir akademik saja, tetapi bagaimana caranya menjalankan usaha untuk mendapatkan uang dan meningkatkan kualitas. Majelis Wali Amanat, pandangan kita sebagai komisarisnya,” tambahnya. (afr)

Related Articles

Back to top button
Close