苗栗縣頒布移工禁足令惹議 民團開記者會痛批:無助防疫 | Larangan Pekerja Migran Untuk Keluar Oleh Kabupaten Miaoli Mengundang Perdebatan, Asosiasi Masyarakat Mengkritik : Sama Sekali Tidak Membantu Pencegahan Wabah

移工示意圖。(報系資料照)| Ilustrasi Pekerja Migran (Data Foto)

苗栗縣頒布移工禁足令引發各界議論,質疑此舉侵害移工行動自由且缺乏法源依據。移工團體TIWA及苗栗在地團體今天召開線上記者會指出,苗栗縣移工禁足令缺乏必要性,對防疫根本無濟於事,還造成污名化。

Pemberlakuan larangan keluar terhadap pekerja migran di Kabupaten Miaoli telah memicu perdebatan dari semua lapisan masyarakat, mereka mempertanyakan bahwa tindakan ini melanggar kebebasan bergerak para pekerja migran dan tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Asosiasi pekerja migran (TIWA) dan kelompok lokal di Miaoli mengadakan konferensi pers online hari ini dan menyatakan bahwa larangan keluar bagi pekerja migran di Kabupaten Miaoli tidak diperlukan dan tidak membantu untuk pencegahan wabah dan juga telah menyebabkan pencemaran nama baik.

TIWA在記者會中批評,苗栗縣政府禁止移工從宿舍外出、卻要他們仍然每天上班,因此他們還是能接觸到其他「未被禁止外出的本地員工」,在防疫上並不合理。如果當中有人因此感染,移工再回到擁擠的宿舍,也許又是另一波疫情發生。

TIWA mengkritik dalam konferensi pers bahwa pemerintah Kabupaten Miaoli melarang pekerja migran keluar dari asrama, tetapi mengharuskan mereka untuk tetap bekerja setiap hari, sehingga mereka masih dapat memiliki kontak dengan pegawai lokal lainnya yang tidak dilarang keluar, ini sangat tidak masuk akal dalam hal pencegahan epidemi. Jika beberapa dari mereka terinfeksi dan para pekerja migran kembali ke asrama yang padat dan sesak, maka dikhawatirkan gelombang epidemi lain dapat terjadi.

Selain itu, Gubernur Kabupaten Miaoli menetapkan bahwa pekerja migran diantar ke dan dari tempat kerja oleh majikan atau agensi mereka. Ini juga mungkin tidak dapat mencegah terjadinya infeksi, tetapi kebalikannya akan meningkatkan risiko infeksi. TIWA menyatakan bahwa banyak pekerja migran di industri manufaktur mengendarai sepeda atau kendaraan listrik sendiri ke tempat kerja, dan tidak ada risiko berkumpul bersama, tetapi antar jemput bersama mungkin dapat menyebabkan beberapa orang berkerumun di dalam mobil, dan sangat meningkatkan risiko infeksi.

TIWA研究員吳靜如指出,群聚問題來自移工宿舍環境擁擠、無法滿足社交距離條件導致,因此防疫措施應該從移工宿舍「降載」著手,讓移工能夠擁有真正適於防疫的空間,才能夠阻斷大規模群聚感染的可能。並且,政府也應該要督促、導引工廠採取減班、分流等措施,讓廠內人員的密度下降,才能有效降低傳染風險。

Peneliti TIWA, Wu Jingru, mencontohkan bahwa masalah infeksi klasterisasi disebabkan oleh lingkungan asrama pekerja migran yang padat sesak dan ketidakmampuan untuk memenuhi syarat jarak sosial. Oleh karena itu, langkah pencegahan epidemi seharusnya dimulai dengan “pengurangan kapasitas” di asrama migran, sehingga para migran pekerja dapat memiliki ruang yang layak dan cocok untuk pencegahan epidemi. Dengan ini kemungkinan infeksi kelompok skala besar dapat dihindari. Selain itu, pemerintah juga harus mendesak dan membimbing pabrik untuk mengambil langkah-langkah seperti pengurangan shift kerja dan pembagian jumlah pekerja untuk mengurangi tingkat kepadatan orang di pabrik sehingga dapat mengurangi risiko infeksi secara efektif.

她表示,禁止移工外出對防疫作用十分有限,可說是緣木求魚,這麼做不僅無助防疫,還帶頭侵害人身自由,付出極大代價,這樣的政策根本不把移工當人看。TIWA指出,台灣引進移工30多年來一直被主管機關當成「勞動力」而不是「人」,為了讓資方有廉價的勞動力可以使用,用諸多的法令箝制移工的權益,並以極低的標準看待移工的需求。移工平時默默忍受極差的住宿條件,只有在這次疫情當中才逐漸被社會看見。

Dia menyatakan bahwa melarang pekerja migran keluar memiliki efek yang sangat terbatas pada pencegahan epidemi. Dapat dikatakan bahwa ini tidak hanya tidak ada gunanya dalam pencegahan epidemi, tetapi juga menyebabkan pelanggaran kebebasan pribadi dan harga yang dibayar sangat mahal. Kebijakan ini juga tidak memperlakukan pekerja migran sebagai layaknya manusia. TIWA menyatakan bahwa sejak 30 tahun lalu saat pekerja migran masuk di Taiwan, mereka selalu dianggap sebagai “tenaga kerja” namun bukan “manusia” oleh otoritas yang berwenang. Untuk memungkinkan pelaku industri memiliki tenaga kerja dengan biaya murah, banyak undang-undang dan peraturan yang telah digunakan untuk membatasi hak-hak pekerja migran dan dijalankan dengan standar yang sangat rendah. Pekerja migran biasanya diam-diam menanggung kondisi akomodasi yang sangat buruk dan hanya selama masa epidemi inilah, keadaan mereka perlahan mulai terlihat oleh masyarakat.

吳靜如指出,從中央到地方都應該痛定思痛,趁這個機會徹底檢討、改革移工的住宿環境,而不是指揮中心一邊維持三級警戒,卻放任地方政府恣意地、粗暴地限制移工的人身自由,而長期擺爛的勞動部則是火燒到門前,才匆匆開始清查宿舍,卻也未見實質的成果。

Wu Jingru menunjukkan bahwa setiap orang dari pemerintah pusat dan daerah harus belajar dari rasa sakit yang ada dan mengambil kesempatan ini untuk meninjau secara menyeluruh dan mereformasi lingkungan akomodasi bagi pekerja migran. Dan bukanlah saat Pusat Komando Wabah  dengan gencar mendorong tingkat waspada wabah tingkat 3 namun membiarkan pemerintah daerah dengan sewenang-wenang membatasi kebebasan pribadi pekerja migran. Kementerian Tenaga Kerja, yang sudah lama menganggur, biasanya hanya akan menunggu pintu depan mulai terbakar dan dengan buru-buru mulai memeriksa asrama, tetapi juga tidak ada hasil nyata yang terlihat.

「真正的防疫政策,應該要一視同仁,讓所有人民能團結抗疫,才是真正的同島同命,而不是透過分化、欺壓底層族群,來回應民眾對於疫情的慌張與焦慮」,TIWA指出,疫情來襲,都會有慌亂的時候,但採用過度直覺、簡化的戰略,不單單會折損我們的戰友,也無助於我們打贏這一場仗。

“Kebijakan pencegahan epidemi yang sebenarnya harus diperlakukan sama, sehingga semua orang dapat bersatu untuk memerangi epidemi, inilah yang disebut pulau yang sama dengan nyawa yang sama, dan bukan menanggapi kepanikan dan kecemasan masyarakat tentang epidemi melalui pembedaan dan penindasan kelompok etnis bawah”. TIWA menyatakan, saat serangan wabah datang, pasti akan ada saat-saat panik, tetapi dengan strategi yang terlalu intuitif dan disederhanakan tidak hanya akan membuat kita kehilangan rekan-rekan perang kita, tetapi juga tidak akan membantu kita memenangkan pertempuran ini.

TIWA 2021/6/10記者會畫面截圖。(圖/截圖自臉書)| Screenshot dari konferensi pers TIWA 10 Juni 2021 (Foto / dari Facebook)
Tags

Related Articles

Back to top button
Close