Situasi Bumil Pekerja Migran saat Pandemi Semakin Menyulitkan, Bantuan Masyarakat Tidak Boleh Ditunda!

(foto/ kontribusi Asosiasi Melayani Warga Kota Taoyuan)

Karena situasi pandemi global, ibu pekerja migran sulit mencari pekerjaan dan bayi pekerja migran sulit kembali ke negara asal, sehingga mereka yang sebelumnya telah membantu keluarga Taiwan terjerumus ke dalam kesulitan yang tidak berujung. Organisasi Non-Pemerintah Asosiasi Melayani Warga Kota Taoyuan (SPA Taoyuan) sejak tanggal 20 Juli menjalankan “Program Bantuan Bumil Pekerja Migran” yang memberi tempat tinggal, perawatan medis darurat, bantuan hidup bumil dan bantuan untuk mengganti pekerjaan bagi para ibu pekerja migran. Selama pandemi, SPA Taoyuan juga membantu para pekerja migran melakukan tes rapid dan mendaftar vaksinasi sebagai tindakan pencegahan pandemi.

Seiring bertambah tuanya umur rata-rata masyarakat Taiwan, kebutuhan masyarakat akan pekerja migran semakin meningkat. Hingga akhir tahun lalu, data statistik Kemenaker menunjukkan bahwa jumlah pekerja migran yang menopang perawatan keluarga dan industri dasar di Taiwan sudah melebihi 700 ribu orang. Di antaranya, kebanyakan dari pekerja perawat adalah wanita muda berusia 25-40 tahun. Mereka mengarungi lautan untuk bekerja di negara asing, namun ketika hamil mereka sulit mendapatkan perlindungan dari “Undang-undang Kesetaraan Gender dalam Bekerja” sehingga mengalami kesulitan seperti dipecat secara tidak benar, kehilangan pekerjaan dan tidak punya tempat tinggal. Pendiri SPA Taoyuan Du Guang-Yu berkata, “orang yang dibantu Asosiasi adalah kaum paling lemah di antara pekerja migran, yaitu bumil pekerja migran. Mereka memiliki tekanan ganda dalam ekonomi dan mental”. Namun karena pengaruh pandemi, subsidi pemerintah dan program jadi terhenti sehingga keuangan Asosiasi mengalami kesulitan. Tetapi 2 bulan kemudian akan ada bayi yang lahir. Demi ini, pada tanggal 20 Juli SPA Taoyuan meluncurkan “Program Bantuan Bumil Pekerja Migran”  dan berharap masyarakat dapat membantu dan memberi kesempatan untuk bertahan hidup bagi para ibu pekerja migran yang pernah merawat keluarga Taiwan.

Ketika “Ibu” menjadi sumber dosa, keluarga terpecah setelah dipecat paksa

Selama hamil dan setelah melahirkan, Ibu Taiwan memiliki cuti melahirkan yang diberi gaji dan libur merawat bayi untuk melindungi hak bekerja selama masa hamil, sehingga para ibu dapat menjalani persalinan dengan tenang. Namun yang dihadapi oleh pekerja migran wanita yang bekerja seorang diri di luar negeri adalah kemungkinan dipecat dan kehilangan pekerjaan,  tidak tahu harus meminta bantuan ke mana, dan apakah akan dideportasi setelah hamil? Dalam jangka panjang, bumil pekerja migran selalu terjatuh dari celah hukum. Biarpun dalam “Undang-undang Kesetaraan Gender dalam Bekerja” jelas-jelas mengatakan bahwa majikan tidak boleh memecat pekerja migran dengan alasan hamil. Namun kenyataannya, hampir semuanya dipecat. Biaya agen besar yang harus dilunasi serta masalah ekonomi keluarga membuat mereka menanggung kesulitan yang besar. Ditambah kendala bahasa membuat mereka tidak berani ke rumah sakit,  mereka juga mengalami diskriminasi dan tidak bisa memperoleh bantuan.

Selama pandemi, bayi tidak dapat kembali ke negara asal dan Ibu tidak dapat menemukan pekerjaan.  Pendiri SPA Taoyuan Du Guang-Yu berkata, “Kalau Organisasi Bantuan Sosial tidak membantu, para ibu pekerja migran hanya dapat memilih untuk kabur, dan bekerja secara ilegal untuk membesarkan anak. Para ‘bayi penduduk gelap’ ini hanya bisa hidup di sudut kegelapan seumur hidup mereka”.

Membantu lebih dari 1500 orang pekerja migran selama 7 tahun, SPA Taoyuan tidak menelantarkan setiap orang yang berusaha untuk hidup

Sejak tahun 2014, SPA Taoyuan memulai gerakan  membantu pekerja migran di garis depan, dan telah membantu lebih dari 1500 orang pekerja migran selama 7 tahun. Pekerja migran yang tangannya terpotong oleh mesin, pekerja migran yang mengalami pelecehan seksual oleh majikan, dan pekerja migran yang dipecat karena hamil, semuanya merupakan sasaran yang dibantu oleh SPA Taoyuan. Pendiri SPA Taoyuan Du Guang-Yu menganggap bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja migran adalah pekerjaan tingkat dasar yang tidak ingin dilakukan orang Taiwan, dan kebanyakan dari pekerja migran wanita bekerja giat karena ingin membentuk keluarga, sehingga datang ke Taiwan. Namun setelah hamil, mereka dipecat dengan tidak benar dan ditelantarkan oleh masyarakat.

SPA Taoyuan memiliki 3 pusat perlindungan untuk menempatkan dan memberi bantuan kepada pekerja migran yang menyediakan makan 3 kali sehari, bantuan hukum, bantuan medis, dan juga membantu untuk merawat bayi pekerja migran supaya Ibu pekerja migran memiliki kesempatan untuk berdiri kembali dan kembali ke masyarakat, dan bayi pekerja migran juga dapat bertumbuh besar dengan baik dan sehat. Du Guang-Yu berkata, “setiap kali melihat nyawa baru yang lahir saat memberi bantuan, kami tahu bahwa dalam memberi bantuan kepada Ibu pekerja migran, yang kami ubah adalah hidup dari satu keluarga”.

Tidak pernah menyangka bahwa status sebagai ibu akan menjadi alasan kehilangan pekerjaan.

Marites yang sudah datang ke Taiwan selama 10 tahun pernah merawat 4 keluarga Taiwan. Sebagai pekerja perawat, selain harus menjaga selama 24 jam, memasak, mencuci baju, dan bersih-bersih juga harus dia lakukan. Pada waktu malam hari, ia harus memperhatikan gerak-gerik sang nenek, dan tidak ada waktu istirahat yang pasti. Demi bertahan hidup dan juga demi keluarga, dia bekerja sekuat tenaga. Namun setelah hamil, ia dipecat dengan tidak benar oleh majikan dengan alasan hamil. Dia tidak pernah menyangka bahwa status sebagai “ibu” akan menjadi alasannya kehilangan pekerjaan. Beban keuangan yang besar membuat dia sulit bernafas. Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba, tidak bisa pulang karena pandemi, dan bayi tidak mendapatkan perlindungan hukum. Semuanya membuat dia terjerumus ke dalam kesulitan.

Namun, sang anak adalah buah hati Marites, dan  juga merupakan nyawa yang harus dilindungi sesulit apapun karena ia akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berkeluarga setelah berpikir matang-matang. SPA Taoyuan berusaha membantu para ibu pekerja migran untuk merawat anak mereka melewati masa sulit 3 bulan setelah melahirkan. Pekerja migran bukanlah hanya tenaga kerja, tetapi mereka juga “manusia” yang punya darah dan daging dan ingin berkeluarga.

Sumber keuangan nyaris terputus karena pandemi, bantuan masyarakat tidak boleh ditunda.

Di bawah pengaruh pandemi, Ibu pekerja migran sulit berganti pekerjaan dan sang bayi juga sulit untuk pulang. Yang lebih parah lagi, dalam keuangan asosiasi juga muncul celah yang besar karena kehilangan bantuan pemerintah, sehingga bantuan terpaksa harus terhenti pada bulan Agustus tahun ini. Bila kehilangan pusat perlindungan, bumil pekerja migran serta anaknya akan kehilangan satu-satunya rumah mereka di Taiwan. Mereka tidak akan bisa menemukan harapan untuk bertahan hidup dan sang bayi tidak akan punya kesempatan untuk bertumbuh besar dengan baik.

SPA Taoyuan mengundang masyarakat untuk mengulurkan tangan dan memberi bantuan kepada ibu pekerja migran dan anak mereka untuk melewati masa sulit. Sumbangan bebas maupun sumbangan tetap secara berkala sama-sama merupakan bantuan yang sangat besar. Bila dapat mengumpulkan 300 ribu setiap bulan, akan dapat mempertahankan layanan perawatan medis darurat. Bila mengumpulkan 350 ribu setiap bulan, maka dapat memberi bantuan untuk menempatkan Ibu pekerja migran dan anaknya. Dulu, mereka sudah merawat keluarga kita. Sekarang, giliran kita memberi mereka harapan untuk bertahan hidup.

(foto/ kontribusi Asosiasi Melayani Warga Kota Taoyuan)
Tags

Related Articles

Back to top button
Close