Taiwan Tidak Lockdown Namun Berhasil Meredakan Pandemi, Mengapa Kasus Pandemi Malaysia Melunjak Walaupun Telah Lockdown Dua Bulan?

Ilustrasi kondisi pandemi Malaysia(Foto/shutterstock)

Tingkat siaga Taiwan telah diturunkan ke Tingkat Siaga 2 pada 27 Juli. Banyak kabupaten dan kota telah membuka restoran untuk dine-in di restoran, dan pesta pernikahan serta upacara publik juga telah dibuka kembali. Namun di Malaysia yang kondisi pandeminya jauh lebih buruk daripada Taiwan dan telah melakukan lockdown selama dua bulan, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi memperpanjang lockdown setelah 1 Agustus. Saat berita ini tersebar, akhirnya banyak pengusaha yang bisa menghela napas lega.

Namun, dibandingkan dengan penurunan tingkat siaga dan pembatasan di Taiwan karena kondisi pandemi yang stabil, lockdown di Malaysia diberhentikan karena lockdown kota itu hampir “tidak efektif”. Malaysia telah memasuki keadaan darurat sejak Januari tahun ini. Setelah kondisi pandemi memanas pada bulan Juni, maka diberlakukan lockdown. Pihak berwenang Malaysia awalnya menyatakan bahwa lockdown akan diperpanjang tanpa batas waktu hingga jumlah kasus yang dikonfirmasi turun di bawah 4.000 dalam satu hari. Namun sampai 28 Juli, jumlah kasus masih melampaui 17.000. Lockdown ketat selama dua bulan tidak hanya tidak efektif, tetapi jumlah kasus terus meningkat, dan ini menimbulkan kecurigaan publik serta memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pemerintahan Perdana Menteri Muhyiddin. Taiwan dan Malaysia sama-sama telah mengalami dua bulan lockdown dalam pencegahan dan pengendalian pandemi, tetapi hasil yang didapat sangat berbeda. Mengapa Taiwan dapat berhasil menstabilkan kondisi pandemi sementara Malaysia gagal melakukannya?

Malaysia memasuki lockdown pada 1 Juni, selain melarang perjalanan lintas benua, menutup pasar malam, kafe internet, kasino, bioskop, salon, pusat perbelanjaan dan tempat rekreasi dan hiburan yang tidak penting lainnya, juga menangguhkan acara perekaman program, pembuatan film, pertemuan tatap muka, mengadakan pameran, dan melarang dine-in di restoran. Tidak boleh mengundang tamu ke rumah, dan tidak boleh keluar rumah jika tidak perlu. Dalam satu mobil hanya boleh ada dua orang. Jika naik taksi, hanya boleh satu penumpang dan harus duduk di kursi belakang. Selain itu, Anda tidak boleh meninggalkan rumah dalam jarak 10 kilometer kecuali jika Anda mencari pertolongan medis atau keadaan darurat. Jika ingin berolahraga di tempat terbuka, Anda juga harus menjaga jarak sosial dua meter dan tidak terlalu jauh dari rumah Anda. Sebagian besar tempat usaha hanya bisa dibuka dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam, dan proporsi karyawan di tempat kerja diatur menurut sifat pekerjaan, mulai dari 10% sampai 60%. Kecuali untuk pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan yang diperlukan, semua industri konstruksi harus dihentikan.

Namun, pengendalian pandemi setelah lockdown semacam ini belum membaik setelah dua bulan diterapkan di dalam negeri. Jika dibandingkan pada hari pertama lockdown pada 1 Juni sebanyak 7.705 kasus hingga pada 28 Juli sebanyak 17.405 kasus, maka dapat dilihat bahwa jumlah kasus yang dikonfirmasi belum membaik setelah lockdown selama dua bulan. Perluasan kondisi pandemi selama masa ini juga berdampak besar pada bisnis dan perkembangan ekonomi Malaysia. Kegagalan pemerintah untuk mengendalikan pandemi dan subsidi yang terlambat telah menimbulkan keluhan publik. Selain munculnya swadaya dari “Gerakan Bendera Putih”, masih banyak lagi orang-orang yang tidak puas meluncurkan “Gerakan Bendera Hitam” untuk meminta Perdana Menteri Muhyiddin mundur.

Selain tingkat kepuasan masyarakat menurun drastis, sekutu Muhyiddin di Parlemen, Partai UMNO (UMNO), secara terbuka telah membatalkan dukungan untuknya dan memintanya untuk menanggung kesalahan dan mundur dari jabatannya. Dapat dilihat bahwa membuka lockdown bukanlah karena kondisi pandemi yang semakin stabil, tetapi lebih seperti keputusan yang tidak dapat dihindari untuk menyelamatkan krisis kepercayaan yang terjadi dalam negeri. “The Diplomat” menunjukkan bahwa keputusan untuk membuka lockdown kali ini tidak mengejutkan, karena analisis ahli sebelumnya menunjukkan bahwa tidak mungkin raja Malaysia akan mendukung perpanjangan masa lockdown kota karena memanasnya keluhan publik, dan menghadapi tekanan dari politik dan masyarakat, Muhyiddin harus mencabut lockdown untuk menyelamatkan ekonomi dari krisis ekonomi dan jabatan saat ini.

The “Straits Post” menganalisis bahwa alasan utama kegagalan lockdown adalah bahwa kurangnya kapasitas deteksi telah membuat tingkat keparahan pandemi diremehkan, kurangnya investigasi pandemi yang ketat untuk mengendalikan kontak dan tindakan protokol yang kontradiktif sangat mengurangi efektivitas dari lockdown tersebut. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Malaysia mulai membatalkan sistem pelacakan jejak kasus lengkap pada awal tahun ini, dan hanya menyaring kontak orang yang berhubungan dengan orang yang bergejala, sehingga menghilangkan banyak sumber infeksi yang potensial. Langkah ini tidak mengalami perbaikan setelah kondisi pandemi mulai meningkat pada bulan Mei dan bahkan setelah lockdown diberlakukan. Selain itu, pemerintah di satu sisi mengumumkan lockdown, tetapi masih mengizinkan sebagian besar industri untuk mempertahankan 60% dari operasional tenaga kerja. Hal ini menyebabkan infeksi klaster skala besar di banyak pabrik dan industri manufaktur. Infeksi tersebut menyumbangkan rata-rata 2/3 dari jumlah kasus klaster setelah lockdown diberlakukan.

Selain itu, dibandingkan Taiwan dan Malaysia, Taiwan telah mengawal ketat untuk pencegahan pandemi klaster masyarakat sejak merebaknya pandemi tahun lalu, bahkan jika ada beberapa pelanggaran, dapat dengan cepat dikendalikan dan virus tidak masuk ke komunitas masyarakat. Hingga pertengahan Mei tahun ini, untuk pertama kalinya, wabah lokal berskala besar merebak, dan tingkat siaga / waspada naik ke level 3. Hal ini juga membuat sebagian besar orang di Taiwan semakin berhati-hati dan memiliki kesadaran yang tinggi akan pencegahan pandemi . Sejak pandemi tahun lalu, Malaysia telah lockdown beberapa kali. Seiring waktu, orang-orang perlahan-lahan menjadi bosan dengan pandemi dan kehilangan kesabaran. Beberapa lockdown sebelumnya berdampak signifikan pada perekonomian. Oleh karena itu, ketika Malaysia ditutup lagi pada bulan Juni tahun ini, lebih banyak kasus ketidakpatuhan terhadap peraturan pencegahan pandemi yang muncul, dan banyak orang masih melakukan bisnis dengan melawan peraturan untuk mencari nafkah. Alasan terakhir mungkin adalah bahwa pandemi saat ini di Malaysia terutama berasal dari virus varian Delta, yang sangat mudah menular. Jumlah kasus yang dikonfirmasi terus melonjak meskipun tingkat penyuntikan vaksin masih tidak mencukupi.

Tags

Related Articles

Back to top button
Close