Taiwan Sangat Kekurangan PMA! Simak Bahasan Penambahan Gaji Pekerja Migran Rumah Tangga di Sini

pekerja perawat asing | pekerja migran (foto ilustrasi/ foto data media berita)

Karena pandemi berlangsung di berbagai negara ditambah dengan kebijakan batas antar-negara yang ditetapkan oleh Taiwan, masalah kekurangan tenaga kerja kian menjadi parah. Di dalam setiap jenis pekerja migran, kekurangan yang paling banyak adalah untuk pekerja migran rumah tangga. Dalam kondisi industri perawatan jangka panjang dan pabrik sama-sama kekurangan tenaga kerja, masalah terlalu rendahnya gaji pokok pekerja rumah tangga yang hanya sebesar 17 ribu perlahan muncul ke permukaan.

“Pekerja rumah tangga tidak termasuk dalam cakupan Undang-undang Ketenagakerjaan Taiwan, gaji mereka rendah dan juga harus bersiap sedia sepanjang hari. Kemenaker kemudian membatasi pekerja migran untuk berpindah industri dan berganti majikan, itu berarti memaksa pekerja migran untuk menerima persyaratan kerja yang buruk. Ini membuat pekerja migran dan keluarga yang membutuhkan tenaga perawat yang sama-sama merupakan kaum lemah saling menyiksa satu sama lain,” ucap peneliti dari Asosiasi Tenaga Kerja Internasional Taiwan (TIWA) Chen Xiu-Lian yang menyebutkan masalah rendahnya gaji pekerja rumah tangga serta alasan mereka terpaksa berganti pekerjaan dalam wawancara awal tahun ini. 

Bila membandingkan persyaratan kerja pekerja rumah tangga dan pekerja pabrik, gaji, jam kerja dan cuti pekerja pabrik diatur dalam Undang-undang Ketenagakerjaan Taiwan sehingga sama seperti tenaga kerja lokal Taiwan. Saat ini, gaji minimum mereka adalah 24 ribu per bulan. Sedangkan untuk pekerja perawat yang merupakan salah satu jenis pekerja rumah tangga, persyaratan kerja mereka ditentukan oleh kedua belah pihak melalui kontrak kerja. Berdasarkan kesepakatan antara Kemenaker dengan negara-negara Asia Tenggara, gaji yang diberikan tidak boleh kurang dari 17 ribu per bulan. Saat ini, terdapat sekitar 250 ribu orang pekerja rumah tangga di Taiwan. Rata-rata jam kerja mereka adalah 10,4 jam, dan sepertiga dari mereka sama sekali tidak mengambil cuti libur selama 3 tahun. Karena lingkungan kerja yang tertutup, mereka juga mudah mendapatkan perlakuan tidak adil seperti pelecehan seksual. Selain memiliki gaji rendah, lingkungan kerja mereka tertutup dan risiko mereka mendapatkan perlakuan tidak adil juga tinggi. Dalam situasi seperti ini, tentu saja pekerja migran rumah tangga merasa tidak enak hati.

Di negara tetangga Hongkong, 390 ribu pekerja rumah tangga mendapat perlindungan dari Hukum Perburuhan Hongkong dan Hukum Kompensasi Kerja sama seperti tenaga kerja lokal. Misalnya, majikan harus memberikan upah minimum, membayarkan asuransi kecelakaan kerja, dan setiap minggu harus ada minimum 1 hari istirahat. Bila dibandingkan, dapat dilihat bahwa kebijakan Taiwan masih perlu diperbaiki.

Karena persyaratan buruk dan kebijakan juga tidak fleksibel, pekerja migran terpaksa memilih untuk berganti pekerjaan atau memilih untuk kabur. Di sisi lain, bila pekerja migran mengajukan untuk berganti majikan  menurut peraturan dalam Undang-undang Pelayanan Kerja, majikan baru bisa merekrut pekerja baru setelah lewat 3 bulan. Periode waktu ini sering membuat keluarga orang yang perlu dirawat sibuk bukan kepalang sehingga hal ini juga tidak menguntungkan majikan semula.

Tadinya jumlah pekerja migran di Taiwan ada sekitar 710 ribu orang. Namun kebijakan batas antar-negara telah mempengaruhi jumlah penerbangan dan arus datang-pergi mereka. Hal ini tidak hanya mengurangi jumlah pekerja migran yang masuk. Karena jumlah orang yang keluar lebih banyak daripada yang masuk, pada akhir bulan Agustus tahun lalu jumlah pekerja migran di Taiwan terus menurun hingga hanya tinggal 699.154 orang saja.

Tags

Related Articles

Back to top button
Close