Pekan Sekolah Dimulai, 13 Ribu Pelajar Asing Datang Ke Taiwan! Bagaimana Taiwan Mengatur Pelajar Asing?

(Foto/Shutterstock)

 

Sudah masuk bulan September, yang menandakan musim bagi mahasiswa untuk kembali ke kampus. Tahun ini, sekitar 13.000 mahasiswa internasional datang untuk belajar di Taiwan. Karena wabah epidemi, berita Empat Arah telah merangkum bagaimana saat ini Taiwan  mengatur mahasiswa asing dan akan agar semua orang dapat lebih mengerti dengan jelas.

Hampir seminggu setelah sekolah dimulai, 13.000 siswa luar negeri dan siswa beasiswa kelas Mandarin tidak dapat masuk ke negara itu. Namun, dalam waktu dekat, Pusat Komando Wabah telah merencanakan serangkaian protokol pendukung lengkap untuk memungkinkan siswa international ini bisa memasuki Taiwan . Prinsip-prinsip penting untuk memasuki Taiwan tahun ini antara lain sebelum memasuki Taiwan, jika siswa dan siswa baru tanpa visa/izin tinggal/izin masuk Republik Tiongkok yang masih berlaku, sekolah akan menyiapkan daftar dan mengirimkan surat tersebut ke Biro Urusan Konsuler Kementerian serta Departemen Luar Negeri dan Kantor Imigrasi Kementerian Dalam Negeri untuk menerima mahasiswa yang mengajukan permohonan visa atau izin masuk dan keluar. Setelah siswa memperoleh visa, dan setelah memesan penerbangan dan tempat karantina, mereka lalu menginformasikan sekolah untuk mendapatkan surat persetujuan melalui aplikasi online, dan menyerahkan laporan negatif tes asam nukleat COVID-19 dalam waktu 3 hari sebelum naik ke penerbangan.

Setelah berhasil masuk ke tanah air, mahasiswa akan dites melalui air liur tenggorokan dalam dan melakukan pengujian PCR saat memasuki Taiwan sesuai dengan peraturan, dan melakukan karantina rumahan di tempat karantina selama 14 hari, pengujian PCR sebelum berakhirnya masa karantina (hari karantina 12 sampai 14), dan pada hari ke 10 sampai ke 12 harus memeriksa sekali lagi dengan “Rapid Test Rumahan”. Setelah karantina selesai, masih harus melakukan manajemen kesehatan mandiri selama 7 hari lagi, dan akan diizinkan masuk ke sekolah setelah selesai melakukan semuanya.

Menurut rencana Kementerian Pendidikan saat ini, mahasiswa asing akan diprioritaskan untuk ditempatkan di pusat karantina terpusat, dan Pusat Komando Wabah telah menyediakan 1.500 tempat tidur untuk ditempatkan. Kemendikbud kembali menegaskan, mahasiswa wajib melakukan tes air liur tenggorokan dalam dan menjalani tes PCR saat masuk ke Taiwan, serta melakukan karantina di rumah di tempat karantina selama 14 hari. Lalu diperiksa sekali dengan “rapid test rumahan” pada hari ke 10 sampai ke 12. Lalu pada hari ke 12 sampai ke 14 (sebelum habis masa karantina) harus melakukan tes PCR lagi. Ada tiga jenis mahasiswa luar negeri yang harus melakukan prosedur tersebut, antara lain mahasiswa akademik luar negeri, penerima beasiswa dari Hong Kong, Macau, mahasiswa Cina daratan, dan penerima beasiswa dari Kementerian Luar Negeri, yang berjumlah total 13.000 murid.

 (Foto/Pusat Komando Wabah)

Ding ShuoYan, wakil dekan Caotun Sanatorium dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, mengatakan bahwa stasiun karantina terpusat Taiwan memiliki petugas keamanan yang bertugas menjaga keamanan selama 24 jam. Pos jaga di pintu masuk dan keluar diawasi sepanjang waktu; protokol pencegahan Epidemi sangat ketat, demi memastikan untuk para penghuni yang masuk untuk karantina tidak keluar sesuka hati dan berpindah ke komunitas luar, yang mungkin akan menyebabkan kebocoran dalam pencegahan wabah. Selain berharap mahasiswa internasional akan memiliki kehidupan sekolah yang baik di Taiwan, ia juga berharap agar masyarakat di Taiwan dapat tenang.

Karena semua kampus besar mulai buka sekolah satu demi satu, seluruh Taiwan memperhatikan kondisi wabah dengan dimulainya sekolah dari taman kanak-kanak hingga universitas. Taiwan saat ini sedang mengalami insiden penularan klaster TK. Komandan Pusat Komando Wabah, Chen Shizhong menjelaskan pada konferensi pers reguler hari ini (7) bahwa ada 5 kasus lagi yang dikonfirmasi dalam kasus klaster TK, salah satunya adalah adik dari siswa TK yang berusia satu tahun, dan sampai saat ini ada 15 kasus yang dikonfirmasi dalam kasus klaster ini.

(Foto/Pusat Komando Wabah)

 

※Diingatkan :

Menanggapi pandemi COVID-19, Departemen Pengendalian Penyakit dan Wabah Menular terus memperkuat pengawasan dan tindakan pengendalian di perbatasan. Jika Anda mengalami demam, batuk, dan gejala tidak nyaman lainnya setelah masuk ke Taiwan, silakan hubungi hotline ” 1922 ” atau ” 0800-001922 ” dan pakai masker dan mencari perawatan medis sesegera mungkin sesuai instruksi. Pada saat yang bersamaan, inisiatif untuk memberi tahu dokter tentang riwayat perjalanan dan riwayat kontak untuk mempermudah diagnosis dan pelaporan dengan cepat.

 

Tags

Related Articles

Back to top button
Close