Merantau dan Berjuang ke Taiwan Miliki Tekanan Besar, namun Sarana Konseling bagi Pekerja Migran dan Penduduk Baru tidak Memadai

Situasi pandemi menyebabkan kebijakan batas antar negara menjadi ketat. Hal ini juga menyebabkan banyak penduduk baru dan pekerja migran yang merantau ke Taiwan tidak dapat kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga sehingga menjelang hari raya mereka selalu mudah merasakan kesepian dan menjadi sedih. (foto ilustrasi/ shutterstock)

Situasi pandemi menyebabkan kebijakan batas antar negara menjadi ketat. Hal ini juga menyebabkan banyak penduduk baru dan pekerja migran yang merantau ke Taiwan tidak dapat kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga sehingga menjelang hari raya mereka selalu mudah merasakan kesepian dan menjadi sedih. Akhir-akhir ini ada seorang pekerja migran asal Filipina di Kaohsiung yang pada waktu Festival Musim Gugur melihat keluarga-keluarga di Taiwan berkumpul bersama untuk menyambut hari raya. Ini membuat dirinya yang sedang berjuang sendirian di tempat asing merasa rindu kampung halaman dan lepas kendali lalu berteriak-teriak hingga mendatangkan polisi. Namun saat menghadapi tekanan dalam emosi, sahabat asing, penduduk baru, dan para pekerja migran di Taiwan tetap sulit mendapatkan bantuan.

Laporan berita menyebut bahwa pada tanggal 22 September subuh ada seorang pekerja migran asal Filipina yang berteriak-teriak dan menendang pintu besi di jalanan di Distrik Renwu, Kaohsiung. Ia menimbulkan suara yang berisik dan mengundang perhatian warga sekitar, bahkan ada orang yang yang merekam sosok sang pekerja migran dan mempostingnya ke grup Facebook untuk protes. Setelah mendapat laporan, polisi segera menuju ke lokasi untuk menyelidiki dan menemukan bahwa pekerja migran yang berusia 40 tahun tersebut telah menikah dan memiliki seorang putra. Saat melihat keluarga-keluarga yang berkumpul di Festival Musim Gugur, ia jadi rindu kampung halaman dan emosinya lepas kendali dalam seketika. Setelah polisi menenangkannya dan menghubungi agen menuju ke lokasi kejadian, barulah emosi sang pekerja migran perlahan menjadi stabil.

Jumlah orang asing di Taiwan bertambah setiap tahun. Pada tahun 2019 jumlahnya sudah tembus 760 ribu orang dan di antaranya jumlah pekerja migran hampir mencapai 700 ribu orang. Mereka menanggung beban berat industri manufaktur dan perawatan di Taiwan sehingga memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan ekonomi dan masyarakat Taiwan. Namun kebanyakan dari mereka merupakan kaum lemah dari segi ekonomi, dan perlakuan yang didapat juga selalu kurang. Mereka meninggalkan kampung halaman dan bekerja keras seorang diri di Taiwan. Tekanan hidup yang dihadapi sangat tinggi, dan mereka juga terpisah dari keluarga selama jangka panjang. Ini merupakan sebuah siksaan untuk tubuh dan jiwa mereka. Selama pandemi, mereka juga akan lebih mudah menjadi depresi dan gelisah karena mengkhawatirkan keselamatan dan kesehatan keluarga di kampung halaman. 

Meskipun pekerja migran memiliki kartu NHI, namun mungkin karena hari libur yang dimiliki sedikit, kendala bahasa dan tidak mengenal baik sistem NHI dan pengobatan Taiwan, mereka jadi tidak berani berobat. Biaya konsultasi yang tinggi juga mungkin membuat niat mereka pupus. Kendala bahasa juga bisa menyebabkan kondisi tubuh dan mental serta kebutuhan pekerja migran tidak dapat diketahui secara menyeluruh saat pergi berobat. 

Selain itu, hotline pencegahan bunuh diri Taiwan juga menggunakan bahasa mandarin sebagai bahasa utama. Jarang ada yang menggunakan bahasa Inggris untuk konsultasi, apalagi menggunakan bahasa ibu yang digunakan oleh pekerja migran. Meskipun “hotline 1955 bagi tenaga kerja” milik Kemenaker menyediakan layanan bahasa ibu pekerja migran selama 24 jam, namun layanan utamanya berpusat pada pelaporan serta bantuan hukum dan tidak menyediakan layanan konseling. “Hotline pelayanan kehidupan orang asing yang datang ke Taiwan 0800-024-111” milik Badan Imigrasi juga fokus pada adaptasi kehidupan sehari-hari dan tidak ada layanan dan penerjemah konseling profesional, dan layanan bahasa Asia Tenggara juga tidak tersedia setiap waktu. Bila muncul masalah tubuh dan mental pada pekerja migran, mereka hanya bisa meminta tolong pada majikan, agen atau organisasi non-profit. Situasi kekurangan sarana seperti ini masih memiliki banyak ruang untuk diperbaiki. 

※【NOWnews】mengingatkan:

Bunuh diri tidak dapat menyelesaikan masalah. Berani meminta tolong bukan berarti lemah. Hidup pasti akan ada solusinya.

Lewat tahap 123 – 1. Bertanya 2. Merespon 3. Mengenalkan, kita bisa menjadi pencegah bunuh diri.

※ Hotline Ketenangan: 1925

※ Hotline Guru Zhang: 1980

※ Hotline Kehidupan: 1995

Tags

Related Articles

Back to top button
Close