Lima Kasus Penyalahgunaan Kuasa oleh Polisi saat Menangkap PMA Kaburan, Ia Tertembak 9 Peluru dan Tewas di Tanah Asing (1)

Pada tahun 2017 keluarga Nguyen bersama-sama dengan TIWA mengadakan konferensi pers di depan istana presiden dengan tema “foto ungkapkan kebohongan polisi, pekerja migran tidak seharusnya kehilangan nyawa”. Dengan berlinangan air mata, anggota keluarga membawa foto almarhum dan mengutarakan bahwa Nguyen datang ke Taiwan hanya untuk mencari uang supaya bisa membeli seekor kerbau di kampung halaman. Apakah dosa yang sudah dia lakukan menjadikannya pantas mendapat sembilan kali tembakan hingga tewas? (Foto/ TIWA)

Akhir-akhir ini di kantor polisi Taipei cabang Sanchong terjadi kasus penegakan hukum berlebihan oleh polisi terhadap pekerja migran sehingga mengundang pembicaraan. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya polisi dalam menangkap pekerja migran kaburan diduga menyalahgunakan kekuasaan. Empat Arah sempat meliput bahwa dalam sebuah seminar yang diadakan lembaga bantuan hukum telah diungkap masalah yang ada pada sistem. Kali ini kami meliput lima kasus penyalahgunaan polisi dalam menangkap pekerja migran kaburan dan mengajak para pembaca untuk menyaksikan kisah pilu di balik kedatangan pekerja migran mengarungi samudera. 

“Perlukah Menembak Hingga Tewas?”

Pada bulan Agustus 2017, pekerja migran kaburan bernama Nguyen Quoc Phi saat dikejar oleh polisi ditembak sebanyak 9 kali hingga tewas. Setelah diproses lewat pengadilan, pengadilan menyebut bahwa saat polisi Chen Chong-Wen menggunakan pistol, Nguyen tidak memiliki senjata atau tindakan menyerang.

Lagipula, setelah Chen Chong-Wen menembak untuk keempat kalinya, tubuh bagian bawah Nguyen sudah mengeluarkan banyak darah sehingga kemungkinan menyebabkan bahaya bagi petugas di tempat sudah jelas-jelas berkurang. Namun, Chen tetap menembak Nguyen untuk kelima kalinya dan mengakibatkan ia tidak tertolong setelah diberi pertolongan ke rumah sakit. Pengadilan menganggap tindakan Chen menggunakan pistol jelas-jelas tidak benar karena tidak sesuai dengan prinsip proporsionalitas.

Pada tahun 2017 keluarga Nguyen bersama-sama dengan TIWA mengadakan konferensi pers di depan istana presiden dengan tema “foto ungkapkan kebohongan polisi, pekerja migran tidak seharusnya kehilangan nyawa”. Dengan berlinangan air mata, anggota keluarga membawa foto almarhum dan mengutarakan bahwa Nguyen datang ke Taiwan hanya untuk mencari uang supaya bisa membeli seekor kerbau di kampung halaman. Apakah dosa yang sudah dia lakukan menjadikannya pantas mendapat sembilan kali tembakan hingga tewas? Kasus ini juga menimbulkan perbincangan. Kasus ini memiliki kemiripan dengan kasus polisi Amerika yang menangkap orang negro secara berlebihan hingga tewas. Setelah kejadian tersebut, polisi Chen Chong-Wen hanya mendapat hukuman penjara selama 8 bulan, dengan masa percobaan 3 tahun, dan selama masa percobaan dikenakan pengekangan. 

Setelah keluarganya datang ke Taiwan, adik Huang bernama “Ah-He” mengatakan bahwa kakaknya datang ke Taiwan untuk bekerja menangkap ikan. Namun karena sering dipukul, dimarahi dan dibuat kelaparan oleh pemilik kapal, barulah pada tahun lalu ia kabur dan menjadi pekerja gelap pertanian. Namun akhirnya ia ditembak oleh pistol jala polisi hingga mengenai kepalanya di Alishan, dan kemudian kabur dengan kondisi terluka sehingga saat ditemukan telah meninggal. Hal ini membuat keluarnya sangat sedih. (Foto/Coolloud)

Kasus penyalahgunaan kuasa oleh polisi hingga menimbulkan korban terjadi bertubi-tubi

Setelah kasus Nguyen, perlakuan tidak pantas yang didapatkan pekerja migran di Taiwan tidak beranjak membaik. Pada bulan April 2018, saat menangkap pekerja migran kaburan, polisi menggunakan pistol secara berlebihan sehingga mengakibatkan pekerja migran bernama Huang Wen-Tuan tewas. Pekerja migran Huang menebang pohon di Gunung Alishan secara diam-diam sehingga dikejar oleh polisi. Selama dikejar, kepalanya tertembak oleh “pistol jala” polisi lalu tertangkap dan diborgol polisi. Setelah itu, ketika polisi sedang berbalik untuk mengisi air, Huang menggunakan kesempatan untuk kabur. Namun setelah beberapa hari, ia menjadi sebuah jenazah yang dingin. Ia ditemukan di daerah pegunungan Alishan dan wajahnya sudah  hancur. Laporan otopsi polisi menyebutkan bahwa Huang mengalami retak tulang di bagian kepala karena pistol jala, dan pada akhirnya ia meninggal di pegunungan karena lapar, dingin dan terluka. Setelah keluarganya datang ke Taiwan, adik Huang bernama “Ah-He” mengatakan bahwa kakaknya datang ke Taiwan untuk bekerja menangkap ikan. Namun karena sering dipukul, dimarahi dan dibuat kelaparan oleh pemilik kapal, barulah pada tahun lalu ia kabur dan menjadi pekerja gelap pertanian. Namun akhirnya ia ditembak oleh pistol jala polisi hingga mengenai kepalanya di Alishan, dan kemudian kabur dengan kondisi terluka sehingga saat ditemukan telah meninggal. Hal ini membuat keluarnya sangat sedih.

Baca bagian kedua: Lima Kasus Penyalahgunaan Kuasa oleh Polisi saat Menangkap PMA Kaburan, Ia Tertembak 9 Peluru dan Tewas di Tanah Asing (2)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close