Lima Kasus Penyalahgunaan Kuasa oleh Polisi saat Menangkap PMA Kaburan, Ia Tertembak 9 Peluru dan Tewas di Tanah Asing (2)

Pada bulan September 2018, tim SWAT menggunakan cara mencekik leher untuk menangkap 3 orang PMI kaburan yang sedang berjalan-jalan di distrik pertokoan Zhongli. Kejadian waktu itu direkam dan diunggah ke Facebook dan telah disaksikan sebanyak lebih dari 1,5 juta kali. Namun kepolisian mengatakan bahwa “ketiga wanita asing tersebut begitu melihat mobil patroli nampak panik dan terburu-buru ingin melarikan diri”. Tapi meskipun mereka bertiga adalah pekerja kaburan, mereka juga manusia. Apakah perlu sampai mencekik leher di jalanan?

Pada tahun 2019, TIWA mengunggah sebuah gambar di Facebook dan mengkritik polisi Taichung tidak menghormati pekerja migran. Kepolisian Taichung menempatkan banyak polisi di Plaza ASEAN setiap minggunya dan mengusir pekerja migran yang duduk di lantai meski tidak berbuat ulah. Walaupun begitu, polisi menyangkal telah mengusir secara paksa dan mengatakan bahwa ini adalah patroli tetap yang sudah lama dijalankan dan kebanyakan menggunakan cara yang lunak untuk mengusir supaya mencegah kejadian onar karena minum-minum. Namun duduk lesehan di lantai merupakan budaya unik Indonesia. Bila hanya duduk mengobrol lalu diusir paksa, diduga ada penyalahgunaan kekuasaan dan pengusiran paksa yang dilakukan polisi patut dipertanyakan keabsahannya.

Melihat kasus Nguyen Quoc Phi di tahun 2017, kasus Huang Wen-Tuan, kasus SWAT mencekik leher 3 wanita Indonesia, kasus mengusir pekerja migran secara paksa di tahun 2018, hingga kasus pekerja migran yang sedang membuang sampah diborgol dan ditelantarkan yang terjadi akhir-akhir ini, penyalahgunaan kuasa oleh polisi Taiwan memiliki masalah yang besar dan ada bahaya besar mengancam hak asasi pekerja migran.

Anggota parlemen: karena prasangka buruk, mereka menjadi kambing hitam dalam masalah keamanan 

Anggota parlemen Qiu Xian-Zi pernah mengutarakan pendapat mengenai kasus-kasus penyalahgunaan kuasa oleh polisi. Ia menyebutkan bahwa “menurut data statistik Agensi Polisi Nasional, persentase dari setiap 1000 orang pekerja migran di Taiwan melakukan tindakan kriminal adalah 4,3 orang, sedangkan persentase dari setiap 1000 orang Taiwan melakukan tindakan kriminal adalah 11,7 orang. Persentase tindakan kriminal pekerja migran tidak sampai setengah dari persentase tindakan kriminal warga Taiwan secara menyeluruh. Namun mereka sering diberi prasangka buruk dan menjadi kambing hitam dalam masalah keamanan. Mungkin juga karena prasangka buruk, sehingga menyebabkan Agensi Polisi Nasional menegakkan hukum secara berlebihan”.

Dalam postingannya di Facebook, Qiu Xian-Zi juga memaparkan alasan pekerja migran kabur: “1. Sebelum datang ke Taiwan perlu membayar biaya agen yang tinggi. 2. Persyaratan kerja seperti gaji, hubungan kerja, jumlah pekerjaan dan lingkungan bekerja tidak sesuai dengan ekspektasi semula. Supaya dapat mengurangi jumlah PMA kaburan dari akarnya, kami terus memberikan saran kepada Kemenaker, seperti memperbaiki persyaratan kerja, meningkatkan gaji pokok, membebaskan pekerja migran untuk berganti majikan dan memberi mereka hak untuk memilih pekerjaan supaya mengurangi keinginan untuk kabur”.

“Dalam data statistik, persentase PMA kaburan asal Vietnam dan Indonesia adalah yang paling tinggi. Alasan pekerja migran Vietnam kabur adalah karena biaya agen mereka paling tinggi. Sedangkan untuk pekerja perawat Indonesia adalah karena mereka tidak mendapatkan hari libur, persyaratan kerja mereka kurang baik dan tidak bisa berganti majikan secara bebas. Ini semua memaksa mereka untuk kabur”. Dengan kata lain, sebagian dari pekerja migran terpaksa kabur karena sistem yang ada kurang komprehensif. Meskipun tetap merupakan tindakan ilegal, tapi apakah berarti saat menjalankan tugas polisi bisa seenaknya? Apakah karena warna kulit yang berbeda lantas boleh diperlakukan semena-mena? Semua ini merupakan masalah yang patut ditinjau oleh organisasi  HAM dan warga.

Baca bagian pertama: Lima Kasus Penyalahgunaan Kuasa oleh Polisi saat Menangkap PMA Kaburan, Ia Tertembak 9 Peluru dan Tewas di Tanah Asing (1)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close