Mengadvokasi Pendirian Mushola di Pelabuhan Untuk Nelayan Asing, Dia Mengatakan: “Kesehatan Mental Perlu Diperhatikan.”

Kapal nelayan Pelabuhan Suao mempekerjakan banyak nelayan asing, dan lingkungan tempat tinggalnya sangat padat. (Foto oleh reporter Lai Zhenglin pada April 2021)

Taiwan dikelilingi oleh lautan dan memiliki sumber daya perikanan yang melimpah. Namun, sangat kekurangan nelayan. Dalam beberapa tahun terakhir, perikanan Taiwan telah didukung oleh masuknya nelayan asing. Lembaga Pengawas melaporkan bahwa per akhir September 2020, kapal penangkap ikan laut Taiwan berjumlah 1.106 dan telah mempekerjakan sekitar 22.000 pekerja nelayan asing. Kapal penangkap ikan ini beroperasi di tiga lautan terbesar di dunia dan menggunakan 32 pelabuhan di seluruh dunia. Namun, hak asasi dan kepentingan nelayan Taiwan telah menimbulkan keprihatinan besar bagi pemerintah asing dan organisasi non-profit. Pada tahun lalu (2020), Amerika Serikat mengumumkan “Daftar Barang yang Diproduksi oleh Pekerja Anak atau Kerja Paksa” edisi ke-9, dan untuk pertama kalinya mencakup juga industri penangkapan ikan lepas pantai Taiwan ke dalam daftar tersebut. Saat ini Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko melarang secara tegas impor komoditas yang dihasilkan oleh kerja paksa.

Nelayan asing ditempatkan di pelabuhan dalam waktu yang lama, selain jam kerja yang tinggi dan upah yang rendah, beberapa gaji nelayan juga ditipu oleh majikannya, dan beberapa nelayan hanya dapat hidup di kapal penangkap ikan. Pada awalnya, tidak ada tempat untuk mandi. Baik di musim dingin atau di musim panas, mereka hanya bisa mandi di pelabuhan. “Bagi nelayan asing, ini bukan hanya penyiksaan fisik, tetapi juga ketidaknyamanan secara psikologis,” kata Li Zhengxin, seorang komisaris dari Pusat Layanan Sosial Xinshi yang telah lama membesuk para nelayan. “Beberapa pelabuhan nelayan masih merupakan pelabuhan wisata yang ramai. Coba Anda pikir bila kadang-kadang gadis atau anak-anak muda lewat di sebelah Anda, dimana Anda harus bekerja sepanjang hari tetapi harus mandi bugil di udara terbuka, bagaimana perasaan Anda?”

Banyak organisasi non-profit yang menganjurkan untuk mendirikan toilet di pelabuhan, tetapi Li Zhengxin percaya bahwa selain toilet, tempat untuk berdoa juga sangat penting. Li Zhengxin, yang sudah 11 tahun tinggal di Indonesia, sering berkomunikasi dengan para nelayan Indonesia untuk memahami situasi mereka. Ia menemukan beberapa nelayan asing di pelabuhan-pelabuhan kecil mengeluh bahwa mereka berharap ada pemandian air panas dan mushola yang bersih di sisi samping kapal. Tetapi harapan ini selalu hanya buaian belaka, dan mereka berpikir bahwa tidak ada yang akan memperhatikan nelayan asing di pelabuhan perikanan kecil, belum lagi untuk membangun fasilitas di sisi pelabuhan. Li Zhengxin, yang pernah mengembara di negeri asing, merasa bahwa seseorang mungkin kadang-kadang dapat menanggung siksaan fisik, tetapi bila terhalangi juga dalam keyakinannya, ini dapat membuat orang lebih merasa hancur. 

“Saya seorang Kristen yang taat. Ketika saya bekerja di Indonesia, saya juga akan merindukan rumah atau mengalami masa-masa sulit. Saat itu, saya akan berdoa kepada Tuhan. Jadi saya bisa memahami perasaan para nelayan asing yang ingin mempertahankan imannya.” Li Zhengxin mengatakan, nelayan asing sebagian besar adalah pekerja yang berasal dari Indonesia, dan banyak nelayan asing Indonesia yang memegang kepercayaan Muslim, yang biasa dikenal dengan Islam. Biasanya dalam sehari shalat lima waktu menghadap ke arah Mekkah, ketika sebelum shalat, mereka harus membersihkan mulut, hidung, telinga, tangan dan kaki, dan shalat di dalam ruangan yang bersih. Namun, nelayan asing yang bekerja di Taiwan saat ini bekerja dan tinggal di kapal. Karena kesibukan pekerjaan dan sempitnya ruang di kapal, mereka hanya bisa berdoa dan mencuci tubuh di geladak. Terkadang hanya bisa sholat satu kali. Tapi jika waktu memungkinkan , mereka juga akan menyelesaikan sholat lima waktu dalam sehari, melalui doa untuk menstabilkan tubuh, pikiran, dan jiwa mereka, dan berdoa agar Allah memberkati mereka semua di tanah asing sampai mereka kembali ke tanah air dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka.

Mendengar permintaan tersebut, Xinshi mulai merencanakan dan melakukan investigasi, serta mengunjungi dan mensurvei 21 pelabuhan perikanan yang langsung melayani nelayan asing. Pada saat yang bersamaan memeriksa lokasi yang cocok untuk toilet dan mushola di pelabuhan, semua nelayan yang ditemui dalam proses itu memiliki senyum malu-malu, yang membuat pekerja sosial Xinshi sangat terharu dan melihat bagaimana mereka masih sabar saat menghadapi kesulitan sekalipun.

Mudah-mudahan melalui kekuatan dari keyakinan dapat meredakan kegelisahan di hati, itulah isi hati yang terdengar setelah mewawancarai banyak nelayan. Li Zhengxin mengatakan bahwa selama wawancara, beberapa nelayan mengatakan, “Kadang-kadang beberapa rekan desa atau diri mereka sendiri, karena beberapa hal mempengaruhi emosi mereka, mungkin berasal dari kampung halaman atau kondisi kerja, membuat mereka merasa kesal dan cemas, dan mereka sering melalui minum alkohol untuk melupakan kekhawatiran dan rileks untuk waktu yang singkat. Tetapi terkadang minum terlalu banyak dapat membuat emosi Anda hilang kendali. Oleh karena itu, mereka berharap jika ada mushola yang bersih di tepi pelabuhan, mereka dapat menggunakan kekuatan doa untuk menenangkan hati mereka ketika menghadapi masalah emosional. Agar hati mereka bisa tenang dan tidak perlu lagi menggunakan alkohol untuk menyelesaikannya.”

Tidak hanya masyarakat yang meminta perhatian terhadap hak dan kepentingan nelayan, anggota komite Lembaga Pengawas pemerintah Wang Youling, Wang Meiyu, dan Cai Chongyi setelah menyelidiki dan mewawancarai nelayan asing mengetahui bahwa nelayan asing di kapal penangkap ikan laut Taiwan memang mengalami pemotongan gaji, jam kerja yang panjang, dokumen identitas yang ditahan, dan pemaksaan penandatanganan kontrak eksploitasi oleh agensi. Lembaga Pengawas mengoreksi tiga kementerian Departemen Perikanan, Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Luar Negeri dan meminta Eksekutif Yuan untuk menanggulangi hak-hak buruh nelayan asing di kapal penangkap ikan laut. 

Seorang juru bicara Greenpeace menunjukkan bahwa sistem rekrut pekerja di luar negeri harus dihapuskan. Saat ini, sebagian besar nelayan asing di kapal penangkap ikan laut dipekerjakan di luar negeri dan tidak memiliki hak dan perlindungan tenaga kerja. Kementerian Tenaga Kerja harus melindungi semua nelayan asing dengan “Undang-Undang Dasar Ketenagakerjaan” dan memberi perlindungan yang sama seperti nelayan asal Taiwan. Selama masa transisi, Departemen Perikanan harus memastikan bahwa industri sepenuhnya mematuhi “Langkah-Langkah Perizinan dan Manajemen untuk Ketenagakerjaan ABK Non-Taiwan di Luar Negeri”, khususnya, gaji harus dibayar penuh, dilarang pemotongan sewenang-wenang, dan pembayaran jumlah asuransi nelayan asing harus secepat dan selengkap mungkin, dan pengelolaan nelayan asing harus sepenuhnya diserahkan kepada instansi pemerintah.

( Foto / Pusat Layanan Sosial Xinshi Grup Nelayan )

 

Tags

Related Articles

Back to top button
Close