Kecelakaan Jalur Sanying | Sudah Pernah Terjadi Kecelakaan di Bulan April, Ronggong Juga Diekspos Pernah Mengeksploitasi Pekerja Migran

Beberapa hari yang lalu telah terjadi sebuah kecelakaan dalam proyek MRT jalur Sanying yang menewaskan 3 orang dan 2 orang terluka, berbagai masa lalu gelap Ronggong lantas menimbulkan perdebatan. (foto ilustrasi/ shutterstock)

Beberapa hari yang lalu telah terjadi sebuah kecelakaan dalam proyek MRT jalur Sanying yang menewaskan 3 orang dan 2 orang terluka. Pada bulan April tahun ini, di Ronggong Engineering Co., Ltd. yang merupakan kontraktor proyek MRT jalur Sanying juga pernah terjadi sebuah kecelakaan teknis. Mereka bahkan diekspos oleh legislator di mana mereka bekerja sama dengan perusahaan konstruksi milik negara Indonesia “Wika” (PT. Wijaya Karya) dan melanggar UU Dasar Ketenagakerjaan serta mengeksploitasi pekerja migran Indonesia. Masa lalu yang gelap ini lantas menimbulkan perdebatan.

Pada tanggal 8 April tahun ini, saat sedang memindahkan struktur baja jembatan yang terletak di pinggir sungai Sanxia untuk projek MRT jalur Sanying, sopir mobil crane Ronggong tidak mengikuti aturan untuk menyimpan tangan mobil crane dan mengakibatkan mobil crane menjadi tidak stabil dan terjatuh ke samping. Meskipun tidak ada korban, namun hal ini sudah menunjukkan adanya potensi bahaya dalam pekerjaan konstruksi. Setelah kejadian tersebut, dinas MRT kota Xinbei mengenakan denda sebesar 20 hingga 30 ribu NTD kepada pelaku serta lembaga pengawas konstruksi. Pada waktu itu pemerintah Kota Xinbei juga menyatakan akan meminta lembaga pengawas konstruksi untuk memastikan keselamatan konstruksi dengan seksama, meningkatkan pengawasan di tempat dan melakukan pengecekan secara berkala. Namun tidak disangka kini terjadi kecelakaan lagi.

Tidak hanya begitu, legislator New Power Party (NPP) Qiu Xianzhi dan Asosiasi Buruh Internasional Taiwan (TIWA) juga mengadakan konferensi pers untuk mengekspos kerja sama mereka dengan perusahaan konstruksi milik negara Indonesia “Wika” yang melanggar undang-undang tenaga kerja dan mengeksploitasi pekerja migran Indonesia sehingga gaji bulanan yang diterima oleh pekerja migran Indonesia hanya setara dengan 9677 NTD. Meskipun setiap bulan mereka lembur hingga 176 jam, namun gaji lembur yang diberikan hanyalah 47 NTD per jam. Ini tidak hanya melanggar peraturan batas jam lembur maksimal 46 jam per bulan, upah gaji dan lembur juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan standar gaji pokok sehingga semuanya telah melanggar peraturan dalam UU Dasar Ketenagakerjaan. 

Kabarnya dalam kerja sama Ronggong dan Wika untuk mengerjakan projek MRT jalur Sanying, tersebut Wika bertugas untuk merekrut pekerja migran di Indonesia dan kemudian langsung didatangkan untuk bekerja di Taiwan. Gaji pekerja migran disesuaikan dengan standar gaji di Indonesia dan gaji akan langsung diberikan dalam bentuk rupiah ke dalam rekening di Indonesia. Hal ini telah melanggar ketentuan UU Dasar Ketenagakerjaan. Setelah disnaker Kota Xinbei ikut menyelidiki hal tersebut, 57 orang pekerja migran Indonesia telah mencapai kesepakatan dengan Ronggong. Ronggong harus memberikan kekurangan upah gaji bulanan dan gaji lembur sesuai dengan peraturan dalam UU Dasar Ketenagakerjaan sebesar 9,2 juta NTD dan cuti yang seharusnya didapatkan pekerja migran sesuai dengan peraturan hukum juga harus diberikan. Kini kembali terjadi kecelakaan oleh Ronggong dan mengakibatkan 2 orang tewas. Hal ini juga membuat rekor pelanggaran hukum Ronggong di masa lalu kembali dipergunjingkan. 

Tags

Related Articles

Back to top button
Close